Minggu, 09 Februari 2014

STRUKTUR ORGANISASI UPBAT PUNTEN

STRUKTUR ORGANISASI UPBAT PUNTEN

Berdasarkan SK Gubernur TK I No. 23 tanggal 29 Januari 1987, struktur organisasi Unit pengelola Budidaya Air Tawar (UPBAT) Punten adalah :

 













VISI DAN MISI UPBAT PUNTEN

VISI
TERWUJUDNYA UPBAT YANG MANDIRI, TANGGUH, BERORIENTASI DAN  BERWAWASAN AGRIBISNIS SERTA BERBASIS EKONOMI KERAKYATAN

MISI
  1. PEMANTAPAN KELEMBAGAAN DAN STRUKTUR ORGANISASI DENGAN PERSONIL YANG MANTAP
  2. MENINGKATKAN KAPASITAS KEMAMPUAN USAHA DAN DAYA SAING DALAM PRODUKSI BENIH IKAN DARI SEGI KUALITAS, KUANTITAS MELALUI PENERAPAN SISTEM PENGENDALI  MUTU TERPADU
  3. MELAKSANAKAN DIVERSIFIKASI USAHA PEMBENIHAN IKAN AIR TAWAR SERTA  PEMBUDIDAYAANNYA
  4. MENINGKATKAN BUDAYA KERJA DAN PELAYANAN MASYARAKAT (PUBLIC SERVICE)

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN


           Unit Pengelola Budidaya Air Tawar (UPBAT) Punten - Batu merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur.
UPBAT Punten terletak di lereng Gunung Arjuna, tepatnya di desa Sidomulyo, Kota Batu. Ketinggian tempat 1.100 meter dari permukaan laut dengan suhu udara antara 19 oC - 27,5 oC, suhu air antara 17 oC - 25 oC dan kemiringan lokasi 35o. Untuk mengairi UPBAT Punten diambil dari Sungai Brantas dengan Dam Prambatan melalui saluran primer Prambatan B selanjutnya dengan Dam Prambatan Aftaping II air diambil Khusus Untuk UPBAT Punten dengan debit air 10 liter/detik. 
UPBAT Punten mempunyai Tugas dan Fungsi Sbb :
1.    Sebagai Tempat seleksi induk/benih yang unggul
2.    Sebagai tempat adaptasi teknologi jenis-jenis ikan air tawar
3.    Sebagai tempat penyuluhan di bidang Perikanan
4.    Sebagai tempat pembinaan petani pembenih ikan
5.    Sebagai penghasil benih

Sabtu, 08 Februari 2014

SEJARAH UPBAT PUNTEN

     Unit Pengelola Budidaya Air Tawar Punten dibangun pada tahun 1918 dan diresmikan pada tanggal 24 Desember 1918. Luas lahan seluruhnya adalah 3,6 Ha. Khususnya kolam 2,4 Ha. UPBAT Punten ini adalah yang pertama didirikan di Jawa Timur dan pertama di Indonesia dengan maksud untuk mengembangkan penyuluhan perikanan  air tawar di daerah ini. Pembangunan dipimpin oleh E.J. Reintjes dan dibantu oleh pegawainya antara lain  : Supardi Niti Sumarto dan Makri (Cokro).
     Pada bulan Januari 1919 untuk pertama kalinya didatangkan ikan tombro (Cyprinus carpio, L) dari Tasikmalaya, Jawa Barat sebanyak 100 ekor jantan dan 125 ekor betina.  Ukuran ikan 20 - 30 cm, warna kemerah-merahan. Pada bulan Juli 1919 mulai dipijahkan/dikawinkan dengan metode Dubish dalam metode ini sebagai tempat meletakkan telur digunakan rumput yang sengaja ditanam. Satu minggu sekali memijahkan satu pasang dengan perbandingan 1:2, 2:3, 3:4. Hasil benih ikan UPBAT Punten, pada tahun-tahun permulaan (1919 - 1922) terbanyak ditebarkan di waduk-waduk dan rawa di daerah Bojonegoro, ada pula yang dikirim ke Flores dan Bali. Penjualan benih ikan rakyat untuk pertama kalinya masih sangat sulit, karena rakyat tidak suka ikan yang berwarna merah, kemudian dicoba mendatangkan tombro hitam. Kemudian dicoba mendatangkan Tombro hitam atau hijau dari Eropa, tetapi hal ini tidak berlangsung lama karena terlalu banyak kesulitan dan resiko transportasinya. Untuk itu dilakukan seleksi ikan tombro yang didatangkan dari Sumber Pucung Kawedanan Kepanjen yang berwarna kehijauan sebagai induk yang mampu menghasilkan jenis ikan tombro dengan warna kehijauan secara beruntun.
     Akhir tahun 1922 baru didapatkan jenis tombro kehijauan dan hijau kelam yang dikenal dengan tombro Punten, dan pada tahun-tahun berikutnya pemeliharaan ikan tombro di Jawa Timur menjadi semakin memasyarakat.
Pada tahun 1923-1928 dibawah pimpinan yang baru ialah Van Dragon dengan dibantu H. Haanse diadakan berbagai percobaan. Perputaran pemindahan diteliti dengan diadakan percobaan pemijahan terhadap pasangan-pasangan induk yang tetap. kolam-kolam diubah sesuai dengan teknik ini.
     Percobaan pemijahan menggunakan variasi perputaran satu dan tiga bulan, dalam waktu satu tahun telah dapat disimpulkan bahwa sepasang induk dapat dipijahkan sampai tujuh kali.
Dengan meninggalnya H. Haanse, seleksi diteruskan oleh penggantinya H.J. Goossen beberapa tahun kemudian dari seleksi tersebut terjadi jenis Ikan Mas/Tombro Punten yang terkenal di kalangan perikanan darat di seluruh Indonesia.